Permen Membuat Anak Sulit Diatur
Dokumentasi
Minggu, 11 Januari 2009 | 16:36 WIB

PASANGAN Ny Nety (30) dan Steve (34) sama sekali tak mengira bahwa lemari kayu berisi penuh aneka permen, coklat, snack, dan minuman kemasan yang ada di dapur, ternyata bisa mempengaruhi perilaku dan kondisi kesehatan ketiga anak mereka.

IBARAT kotak pandora, ketika tutup lemari kayu itu dibuka, ujungujungnya selalu menimbulkan masalah. Sendy (7), Jordan (4), dan si bungsu Mike (1,5) tumbuh menjadi anak-anak yang sulit diatur, bahkan cenderung hiperaktif.

Di dalam maupun di luar rumah, ada saja tindakan mereka yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Berlarian tanpa arah di jalan umum dan pusat belanja, bermain pematik api beraksi layaknya cowboy jago tembak, saling membekap wajah hingga napas sesak, dan lainnya.

"Aku jadi sering teriak, mencubit, dan terpaksa memukul supaya anak-anak bisa lebih tertib. Setelah itu gantian aku yang capek dan sedih. Steve cenderung pasif. Meskipun sekedar bantu aku membujuk supaya anak-anak mau makan makanan yang sudah aku buat," keluh Ny Nety.

Ny Nety dan Steve baru tersadar ketika dalam sebuah konsultasi, dokter keluarga bertanya apa di rumah anak-anak terlalu banyak mengonsumsi permen, snack, serta minuman kemasan. Pasangan ini pun langsung teringat lemari kayu yang ada di dapur rumah mereka.

"Dalam sehari anak-anak bisa bolak-balik sampai sepuluh kali mengambil permen, coklat, snack, dan minuman kemasan yang mereka suka. Saya baru tahu kalau ada zat kimia sintetis tertentu yang tidak baik buat anak-anak. Terutama permen," ujar Steve.

Pengaruh terlalu banyak mengonsumsi permen bagi kesehatan anakanak telah banyak diteliti para ahli. Namun masih banyak orangtua mengetahui dan paham informasi tersebut. Kondisi di atas bisa semakin parah karena orangtua menerapkan pola asuh yang salah.

Konsultan gizi dari Politeknik Kesehatan Jakarta, Siti Mutia Rahmawati SKM MSi mengungkap, minimal ada tiga dampak negatif mengonsumsi terlalu banyak permen berbahan dasar sukrosa dan glukosa bagi anak-anak.

"Permen tidak memiliki kandungan gizi. Sebutir permen menghasilkan 20-30 kalori yang bila terus ditumpuk akan menjadi cadangan lemak. Anak bisa mengalami obesitas, kencing manis, dan gangguan jantung," terang Siti Mutia seperti dikutip kompas.com.

Makan permen tanpa tahu cara yang benar menggosok gigi secara teratur, dipastikan bisa merusak gigi anak-anak. Sisa permen di sela gigi akan terfermentasi dan membentuk asam yang bisa menyebabkan gigi berlubang.

"Terlalu banyak makan permen juga bisa mengurangi nafsu makan anak-anak. Sebab zat gula yang terkandung dalam permen bisa memberi efek kenyang," terang Siti Rahmawati. (ricky reynald yulman)

Zat Warna Sintetik
HINGGA
kini permen masih menjadi camilan favorit bagi anak-anak. Bahan dasar pembuat permen yaitu sukrosa atau gula pasir. Zat glukosa ditambahkan buat memperbaiki tekstur agar terasa lembut saat dinikmati.

Pada perkembangannya, makin banyak lagi zat kimia sintetis ke dalam permen. Di antaranya sakarin (siklamat) dikenal sebagai biang gula yang menghasilkan rasa sangat manis.

Asam malat atau asam sitrat ditambahkan untuk memunculkan rasa masam pada permen rasa buah-buahan. Seperti permen jeruk, stroberi, anggur, dan sebagainya.
Zat warna juga membuat makanan lebih terlihat alami dan menciptakan kesan makanan itu mengandung bahan-bahan yang segar. Padahal sebenarnya artifisial. Kadang zat pewarna juga dipakai buat penanda jenis.

Intinya, zat warna sintetik ditambahkan untuk alasan kosmetik. Membuat makanan jadi menarik, memancing perhatian, dan membangkitkan selera. Beberapa yang sering dipakai yaitu erythrosin (karmin) buat warna merah. Sedangkan tartazin digunakan untuk menghasilkan permen warna kuning.

Ada permen rasa susu, coklat, kopi, dan vanili. Tapi kandungan bahan-bahan tambahan tersebut sangat kecil persentasenya. Sebab komponen utama tetaplah gula. (ricky reynald yulman)

Ganti dengan Buah Segar
MENGAJAK
anak-anak mengurangi konsumsi permen, coklat, snack gurih secara bertahap merupakan langkah bijak orangtua. Terutama setelah memahami zat kimia sintetis permen serta dampak buruk bagi kesehatan anak-anak.
Secara bertahap orangtua perlu mengganti permen dengan camilan sehat. Berikut beberapa hal penting yang perlu diperhatikan :
- Orangtua harus satu visi tentang pola asuh.
- Solid dan konsisten dalam menerapkan aturan.
- Batasi konsumsi permen, misalnya cuma satu butir sehari.
- Mengganti permen dengan buah-buahan atau sayuran segar.
- Bujuk agar anak minum cukup air putih.
- Beri pujian kalau anak mau makan makanan utama.
- Beri sanksi bila anak melanggar aturan. (ricky reynald yulman)

0 komentar:

Leave a Reply